Oleh: sahrazeida | Maret 12, 2008

IMPLEMENTASI EKONOMI SYARI’AH

Oleh : Agustianto

Ekonomi Islam adalah bagian penting dari ajaran Islam yang bersumber Al-Quran dan hadits. Ijtihad para ulama tentang ekonomi Islam dan muamalah maliyah juga sangat melimpah. Sebagai konsekuensinya, kita harus mengamalkan ajaran ekonomi Islam tersebut agar keIslaman kita menjadi kaffah, tidak sepotong-potong. Allah SWT secara tegas memerintahkan agar kita memasuki Islam secara kaffah ( menyeluruh ). “ Hai orang – orang yang beriman, masuklah kamu kedalam Islam kaffah, dan jangan kamu ikuti langkah – langkah setan, sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu”. ( QQ. 2 : 208 ). Dalam ayat lain Allah berfirman , “Apakah kamu beriman kepada sebagian kitab dan kafir kepada sebagian yang lain”.( QS 2 :85 ). Kedua ayat di atas mewajibkan kaum muslimin supaya masuk ke dalam Islam secara utuh dan menyeluruh.         

Tapi sangat disayangkan, tidak sedikit kaum muslimin yang telah terperosok kepada Islam persial ( separoh – separoh ). Betul, dalam bidang ibadah, kematian dan akad perkawinan, umat Islam mengikuti ajaran Islam, tapi dalam bidang dan aktivitas ekonomi, banyak sekali umat Islam mengabaikan ajaran ekonomi syari’ah dan bergumul dengan sistem ekonomi ribawi. Dana umat Islam, seperti ONH atau tabungannya, uang mesjid, uang  Perguruan Tinggi Islam, dana organisasi Islam, uang perusahaan yang dimiliki kaum muslimin, dan dana masyarakat Islam secara luas, te diputar dan dibisniskan secara ribawi melalui bank dan lembaga keuangan yang bukan sesuai dengan prinsip syari’ah Islam.   Baca Lanjutannya…

Oleh: sahrazeida | Maret 12, 2008

Berbisnis Dengan Etika Syariah

           Oleh : M. Ridwan, MA         

“Apakah perusahaan tidak rugi jika terlalu banyak dibatasi oleh etika?”. Pertanyaan tersebut pernah diajukan seorang mahasiswa. Menurutnya, adanya batasan etika dalam bisnis malah menyebabkan keuntungan yang diperoleh perusahaan menjadi menurun dan cendrung merugikan.           Pertanyaan di atas cukup menarik. Pertimbangan serupa banyak menjadi penyebab sehingga pelaku bisnis tidak merasa perlu memperhatikan etika dalam berbisnis. Selain karena etika akan bertentangan dengan tujuan perusahaan yaitu mencari keuntungan sebesar-besarnya, juga dikarenakan ukuran etika sangat relatif dan berbeda antar masing-masing individu dan masyarakat.

Lalu, apa itu etika ?    

Etika dipahami sebagai seperangkat prinsip yang mengatur hidup manusia (a code or set of principles  which people live). Berbeda dengan moral, etika merupakan refleksi kritis dan penjelasan rasional mengapa sesuatu itu baik dan buruk. Menipu orang lain adalah buruk. Ini berada pada tataran moral, sedangkan kajian kritis dan rasional mengapa menipu itu buruk dan apa alasan pikirnya,merupakan lapangan etika. Baca Lanjutannya…

Oleh: sahrazeida | Maret 12, 2008

Ekonomi Syariah dan Anjuran Untuk Menjadi Kaya

oleh : M. Ridwan, MA          

Anda tentu sering mendengar istilah falah dalam kajian ekonomi syariah. Terma ini merupakan tujuan dari penerapan ekonomi syariah dalam kehidupan manusia. Falah bersifat multidimensi yang berarti bahwa ukuran kesuksesan suatu individu atau masyarakat adalah tercapainya kemakmuran baik dalam arti materi (kepemilikan terhadap harta/asset) maupun kemakmuran dalam arti spiritual (kepemilikan terhadap nilai-nilai nurani seperti kejujuran, keikhlasan, kreatifitas dan inovasi dan lain-lainnya). Jadi, seorang individu yang telah mencapai falah, maka akan memiliki kekayaan harta plus kekayaan hati nurani dan karakter manusia penagabdi baik kepada Tuhannya maupun lingkungannya. Sebuah masyarakat yang mencapai falah akan terbebas dari kemiskinan, kebodohan, ancaman intimidasi, eksploitasi dan kerusakan ekologi yang diakibatkan oleh pembangunan. Baca Lanjutannya…

Oleh: sahrazeida | Maret 12, 2008

Uang yang Mengalir

Oleh : M. Ridwan          

Ada yang menyangkal pentingnya uang ?. Agaknya, sulit menemukan orangnya. Perekonomian akan kesulitan berjalan tanpa uang. ”Money is evrything” demikian ungkapan yang sering terdengar. Perannya sebagai pengganti sistem barter (pertukaran) dalam kegiatan manusia telah diakui dari masa ke masa. Tak heran, kalau keinginan memiliki uang senantiasa berada pada urutan teratas kebutuhan sebagian besar manusia. Bahkan, indikator sejahteranya individu atau masyarakat banyak didasarkan dari kepemilikannya terhadap benda yang bernama uang ini. Baca Lanjutannya…

Kategori